Kesepakatan nuklir bersejarah antara Amerika Serikat dan Arab Saudi diungkapkan oleh Presiden Donald Trump, yang menyatakan bahwa kesepakatan ini akan bergantung pada pengakuan Riyadh terhadap negara Israel. Dalam sebuah unggahan di platform Truth Social, Trump menekankan bahwa “Kesepakatan Nuklir Sipil (tidak akan ada pengayaan material!)… yang hanya berkaitan dengan penggunaan non-militer… akan disetujui, tetapi sepenuhnya tergantung pada Arab Saudi bergabung dengan Abraham Accords yang sangat dihormati dan sukses.”
Pernyataan Trump muncul setelah kritik dari para ahli yang memperingatkan bahwa kesepakatan ini berpotensi meningkatkan risiko proliferasi nuklir di kawasan yang sudah tidak stabil. Isu nuklir telah menjadi pusat konflik antara AS dan Israel dengan Iran dalam beberapa bulan terakhir.
Pada tahun 2020, Trump memediasi Abraham Accords, yang berhasil mengamankan normalisasi hubungan bersejarah antara Israel dan dua negara Arab, yaitu Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain. Sejak itu, Sudan dan Maroko juga telah menormalisasi hubungan dengan Israel.
Perkembangan ini sangat relevan bagi Indonesia, mengingat posisi geopolitik negara ini di kawasan dan hubungan internasional yang kompleks. Ketegangan di Timur Tengah, khususnya terkait isu nuklir, dapat berdampak pada stabilitas kawasan, dan Indonesia perlu memantau situasi ini dengan cermat. Apalagi, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar, posisi Indonesia terhadap konflik antara negara-negara Arab dan Israel akan selalu menjadi perhatian.
Berita ini terus diperbarui, dan rincian lebih lanjut akan segera diterbitkan. Silakan segarkan halaman ini untuk versi lengkapnya.



