Jakarta – Pasar modal Indonesia mengalami tekanan signifikan akibat keluarnya dana asing yang tercatat mencapai Rp45 triliun pada Maret 2026. Penjualan besar-besaran ini terjadi di tengah ketidakpastian yang meningkat di tingkat global, terutama akibat konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hasan Fawzi mengungkapkan bahwa pada sektor pasar saham, terjadi net sell asing senilai Rp23,34 triliun secara month to month (MtM). “Tercatat adanya lonjakan jual oleh investor asing yang disebabkan oleh transaksi di pasar negosiasi pada sejumlah saham di bursa efek,” kata Hasan dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Maret 2026, yang diadakan pada Senin (6/4/2026).
Di sisi lain, pasar obligasi juga tidak luput dari dampak negatif ini, dengan investor non-resident mencatatkan net sell sebesar Rp21,80 triliun di pasar Surat Berharga Negara (SBN) secara MtM. Keluarnya dana asing ini berdampak pada penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang anjlok 14,42% MtM, sementara Indonesia Composite Bond Index (ICBI) juga mengalami penurunan sebesar 2,03% MtM.
Dampak pada Reksa Dana dan Investor Domestik
Di pasar reksa dana, meskipun mengalami penurunan nilai aktiva bersih (NAB) sebesar 2,51% MtM pada bulan Maret 2026, namun secara year to date (YtD) NAB mengalami penguatan sebesar 3,02%. Hasan menjelaskan bahwa terjaganya NAB reksa dana ini didorong oleh adanya net subscription yang mencapai Rp29,12 triliun secara YtD.
Meskipun investor asing keluar dari pasar, Hasan menegaskan bahwa investor domestik tetap menunjukkan ketahanan yang baik. Pada bulan Maret 2026, jumlah investor pasar modal di Indonesia meningkat dengan penambahan 1,78 juta investor baru, sehingga totalnya mencapai 24,74 juta investor, tumbuh 21,51% secara YtD. “Pasar modal dalam negeri tetap menjalankan perannya sebagai sumber pembiayaan jangka panjang untuk dunia usaha. Hingga akhir Maret 2026, nilai fundraising dari korporasi di pasar modal telah mencapai Rp51,96 triliun,” tambahnya.
Dampak Konflik Timur Tengah dan Langkah OJK
Situasi pasar modal saat ini tidak terlepas dari dampak negatif yang ditimbulkan oleh eskalasi konflik di Timur Tengah. Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi, atau yang lebih akrab disapa Kiki, menjelaskan bahwa efek dari ketegangan tersebut dapat mempengaruhi sektor keuangan Indonesia melalui tiga saluran utama: saluran pasar keuangan, kenaikan harga energi, dan saluran eksposur investasi.
Dalam upaya mengatasi dampak negatif ini, OJK mendorong lembaga jasa keuangan untuk melakukan evaluasi yang lebih mendalam dan memperkuat langkah-langkah antisipatif, termasuk penguatan manajemen risiko serta menjaga kecukupan likuiditas dan permodalan. Kiki juga menekankan pentingnya kolaborasi antara OJK dan Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk terus memantau dinamika pasar dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan.
OJK menilai bahwa sejumlah kebijakan untuk menjaga stabilitas pasar saham masih relevan, seperti buyback saham tanpa rapat umum pemegang saham, penundaan implementasi pembiayaan transaksi short selling, serta kebijakan trading halt dan batasan auto rejection. Pada 13 Maret 2026, OJK dan BEI telah memberlakukan kembali kebijakan-kebijakan tersebut untuk menjaga stabilitas pasar.
Kesimpulan
Keluarnya dana asing dari pasar modal Indonesia menunjukkan tantangan yang dihadapi oleh ekonomi domestik di tengah ketidakpastian global. Meskipun demikian, keberadaan investor domestik yang terus tumbuh menjadi sinyal positif bagi pasar modal. Namun, perhatian tetap harus diberikan pada dampak eksternal yang mungkin terjadi akibat gejolak di Timur Tengah. OJK dan BEI diharapkan dapat terus mengambil langkah-langkah strategis untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan pasar modal di Indonesia.



