Lego menghadapi biaya tinggi, fokus pada inovasi dan Pokemon
Berita

Lego Hadapi Tantangan Biaya Tinggi, Fokus pada Inovasi dan Pokemon

COPENHAGEN – Perusahaan mainan asal Denmark, Lego, tengah bersiap menghadapi lonjakan biaya energi dan bahan baku seiring dengan meningkatnya harga minyak dan gas akibat konflik di Timur Tengah. Pernyataan ini disampaikan oleh CEO Lego, Niels Christiansen, pada 10 Maret 2023.

Christiansen mengungkapkan bahwa perusahaan yang terkenal dengan balok mainannya tersebut berusaha untuk mendorong pertumbuhan melalui inovasi balok interaktif “smart bricks” dan kolaborasi dengan merek terkenal seperti Pokemon. Kenaikan harga minyak diperkirakan akan berdampak pada biaya plastik dan bahan baku lainnya, meskipun saat ini Lego memiliki kontrak yang dapat mengurangi dampak tersebut dalam jangka pendek.

Kenaikan Harga Minyak dan Dampaknya

“Jika harga minyak terus naik, itu bisa mempengaruhi harga bahan baku kami seiring waktu,” ujar Christiansen. “Dampak sebenarnya akan terasa jika harga minyak tetap tinggi dalam jangka waktu yang panjang.”

Harga minyak mentah Brent telah melonjak hingga 65 persen sejak serangan udara yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, dengan harga mencapai lebih dari USD 100 per barel.

Christiansen menambahkan bahwa Lego telah mengalami volatilitas serupa selama pandemi Covid-19 dan invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022. “Dalam hal ini, situasinya tidak jauh berbeda dengan apa yang kami hadapi dalam lima tahun terakhir. Kami merasa nyaman dapat mengelola, tetapi ini adalah volatilitas lagi,” jelasnya.

Peningkatan Biaya dan Ketidakpastian Rantai Pasokan

Komentar Christiansen ini datang di saat produsen di seluruh dunia menghadapi tekanan biaya yang meningkat akibat harga energi yang lebih tinggi dan ketidakpastian rantai pasokan, terutama dengan meluasnya konflik di Iran. Selain biaya energi, Lego juga harus menghadapi ketidakpastian akibat perubahan tarif setelah Mahkamah Agung AS membatalkan beberapa bea yang dikenakan oleh mantan Presiden Donald Trump di bulan Februari.

Trump kemudian memberlakukan tarif baru sebesar 10 persen yang berpotensi naik menjadi 15 persen, menambah tantangan bagi Lego dalam hal biaya produksi. Strategi Lego untuk memiliki pabrik produksi dekat dengan pasar utama juga membantu menekan biaya dan melindungi mereka dari dampak tarif dan gangguan rantai pasokan. Perusahaan ini berencana membuka pabrik manufaktur pertamanya di AS pada tahun 2027 di Virginia.

Strategi Pertumbuhan dan Kolaborasi

“Saat ini, kami lebih fokus pada pengelolaan tarif baru ini,” kata Christiansen. “Kami akan melihat bagaimana perkembangan ke depannya.” Meskipun menghadapi tekanan, Lego mencatat pertumbuhan di semua kawasan dan kategori produk pada tahun 2025, dengan penjualan meningkat di AS, Eropa, dan Asia Pasifik. China pun menunjukkan pertumbuhan setelah dua tahun penjualan stagnan atau menurun.

Pertumbuhan volume, bukan kenaikan harga, menjadi pendorong kinerja perusahaan, tambah Christiansen. Lego tidak memiliki rencana segera untuk menaikkan harga, melainkan berfokus untuk menjangkau lebih banyak konsumen. Perusahaan ini mengharapkan pertumbuhan pendapatan satu digit yang tinggi pada tahun 2026.

Dalam upaya memperluas jangkauan pasar, Lego meningkatkan kolaborasi dengan merek-merek seperti Formula Satu dan Nike, serta acara-acara seperti Bluey dan Pokemon. Selain itu, perusahaan ini sedang meluncurkan “SMART Brick” baru yang dilengkapi dengan lampu, pemindai, speaker, dan sensor.

Kesimpulan

Dengan tantangan biaya yang terus meningkat, Lego tetap berkomitmen untuk berinovasi dan berkolaborasi dengan merek terkemuka. Melalui strategi yang tepat, perusahaan ini berharap dapat mempertahankan pertumbuhan dan menjangkau lebih banyak konsumen di masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *