Kebijakan keamanan di Perpignan Prancis yang menarik perhatian
Berita Internasional

Perpignan: Uji Coba Kebijakan Ketat Terhadap Kejahatan oleh Politisi Sayap Kanan Prancis

Perpignan, Prancis – Di tengah perdebatan politik menjelang pemilihan mendatang, Louis Aliot, walikota incumbent dari partai sayap kanan Rassemblement National (RN), menyampaikan pesan sederhana kepada pemilih: lebih banyak polisi, lebih banyak kamera pengawas, dan lebih banyak ketertiban. Aliot, yang memimpin kota dengan populasi 122.000 jiwa ini, menjadikan keamanan sebagai fokus utama pemerintahannya dan berharap untuk menjadikan Perpignan sebagai model pemerintahan yang dapat direplikasi di seluruh Prancis.

Aliot, meskipun dihadapkan pada hukuman penjara karena kasus penggelapan yang sedang diupayakan bandingnya, tetap optimis dengan posisinya sebagai kandidat terdepan dalam jajak pendapat. Ia menyatakan bahwa Perpignan telah berfungsi sebagai laboratorium bagi pemerintahan RN sejak ia terpilih sebagai walikota pada tahun 2020 dan menjadi etalase ambisi nasional partainya menjelang pemilihan presiden Prancis 2027.

Pentingnya Kebijakan Keamanan

Dengan sasaran untuk memperkuat posisi RN, kemenangan di kota-kota lain akan memberikan keuntungan strategis menjelang pemilihan presiden mendatang. Jajak pendapat menunjukkan RN memiliki dukungan yang kuat di kota-kota seperti Toulon, Nice, dan Marseille. Namun, sistem pemilihan dua putaran menjadikan hasil akhir sulit diprediksi.

Pesan keamanan dari RN sangat resonan di kalangan pemilih di Perpignan, terutama di kawasan yang berdekatan dengan pusat kota bersejarah yang terpengaruh budaya Katalan, yang juga merupakan salah satu daerah termiskin di Prancis. Dalam beberapa minggu menjelang pemilihan pada tanggal 15 dan 23 Maret, pemimpin RN Jordan Bardella bersaing dengan rivalnya dari sayap kiri, Jean-Luc Mélenchon, dalam serangkaian kampanye yang menjadikan kota ini sebagai medan pertempuran simbolis.

Janji Keamanan yang Ambisius

Aliot berjanji untuk menambah 50 petugas polisi dan 200 kamera pengawas, terutama di pinggiran kota, di mana kelas menengah telah berpindah dari kawasan dalam kota yang miskin, yang dihuni oleh populasi keturunan Afrika Utara dan Roma. Sejak 2020, kota ini telah memperluas jumlah petugas kepolisian menjadi 199 dari sebelumnya 161, dengan rasio 1,6 petugas untuk setiap 1.000 penduduk—rasio tertinggi di antara kota-kota Prancis yang memiliki populasi lebih dari 100.000 jiwa.

Konsekuensi dari Kebijakan Ketat

Namun, fokus pada keamanan ini datang dengan biaya. Utang kota mencapai 1.600 euro per penduduk, jauh di atas rata-rata 1.200 euro di kota-kota sebanding. Tarif pajak properti di Perpignan lebih tinggi dibandingkan dengan 71% kota sebanding, dan 98% kota lain memiliki pajak bisnis lokal yang lebih rendah.

Meskipun demikian, majalah bisnis Challenges menobatkan Perpignan sebagai kota ketiga yang paling baik dikelola di Prancis, yang menjadi bahan pembicaraan bagi para pendukung Aliot untuk menarik pemilih yang mengutamakan keamanan di luar basis pemilih RN. Jajak pendapat awal menunjukkan Aliot unggul dengan 44% suara dalam putaran pertama, berkat perpecahan di kalangan oposisi.

Respon Beragam dari Warga

Di lapangan, tanggapan warga terhadap kebijakan ini beragam. Di pasar pusat kota, seorang pensiunan bernama Marie Nivet mengungkapkan dukungannya terhadap jalan yang lebih bersih dan kehadiran polisi yang lebih terlihat, meskipun ia menginginkan tindakan lebih lanjut terkait masalah narkoba. Ia juga masih bimbang untuk memberikan suara pada Aliot karena menunggu hasil banding atas kasus penyalahgunaan dana Uni Eropa yang dihadapinya.

Kesimpulan

Kebijakan keamanan yang diterapkan di Perpignan mencerminkan tantangan yang dihadapi oleh banyak kota di Prancis, termasuk masalah kejahatan dan ketidakpuasan masyarakat. Dengan pemilihan mendatang, strategi Aliot dan RN akan terus menjadi perhatian, tidak hanya bagi pemilih di Prancis tetapi juga bagi pengamat politik di seluruh Eropa. Kebijakan ini bisa jadi merupakan model yang diikuti oleh partai-partai lain di negara-negara Eropa yang menghadapi isu serupa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *