Wakil Menteri Keuangan Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa, mengungkapkan bahwa penerbitan obligasi panda bertujuan untuk mendiversifikasi sumber pendanaan negara. Di masa lalu, pembiayaan global sebagian besar bergantung pada dolar AS. Namun, saat ini, pemerintah berusaha untuk memperluas sumber pendanaan melalui kolaborasi dengan negara-negara seperti Jepang, Australia, dan China. Hal ini disampaikan Purbaya dalam sebuah konferensi pers di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta pada hari Kamis.
Purbaya menjelaskan bahwa penerbitan obligasi yang menggunakan denominasi yuan ini juga akan mendukung perluasan skema Transaksi Mata Uang Lokal (TML) antara Indonesia dan China. Dengan begitu, transaksi bilateral dapat dilakukan menggunakan mata uang lokal, bukan dolar AS. โMelalui TML, mereka membayar dalam yuan dan kami menerima rupiah melalui transaksi antara bank-bank dan bank sentral,โ ujarnya.
Dia menekankan bahwa pengurangan ketergantungan terhadap dolar dapat membantu meredakan tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan mendukung stabilitas kurs. โRupiah akan cenderung menguat karena tekanan dari dolar akan berkurang. Strategi ini sengaja dikembangkan untuk memaksimalkan instrumen yang tersedia demi menjaga nilai tukar rupiah,โ lanjut Purbaya.
Pemerintah Indonesia juga mengincar sumber pendanaan yang lebih luas. Purbaya mengungkapkan bahwa penerbitan awal obligasi panda akan dibatasi sekitar 1 miliar dolar AS saat pemerintah memperkenalkan instrumen ini ke pasar. Pemerintah akan mengevaluasi permintaan investor melalui proses book-building sebelum mempertimbangkan penerbitan yang lebih besar.
Dia menambahkan bahwa hasil dari penerbitan obligasi panda akan digunakan untuk membantu membiayai sebagian dari defisit anggaran pemerintah dan kebutuhan belanja lainnya. Purbaya menekankan bahwa penerbitan ini merupakan bagian dari upaya lebih besar Indonesia untuk memperluas pilihan pembiayaan dan mengurangi ketergantungan pada pendanaan yang menggunakan dolar AS di pasar global.
Dengan langkah strategis ini, Indonesia diharapkan dapat memperkuat posisinya dalam menghadapi tantangan finansial global dengan cara yang lebih berkelanjutan dan efisien.