Bisnis Sinema di Indonesia Terus Bergeliat
Jakarta – PT Nusantara Sejahtera Raya Tbk. (CNMA), pengelola jaringan bioskop Cinema XXI, berhasil meraih pendapatan sebesar Rp5,86 triliun pada tahun 2025. Meskipun mengalami pertumbuhan sebesar 2,60% secara tahunan, laba bersih perusahaan mengalami penurunan sebesar 3,32% menjadi Rp704,75 miliar. Kinerja ini menandakan tantangan yang dihadapi industri perfilman di tengah dinamika ekonomi yang berubah.
Kepercayaan dari Pemangku Kepentingan Kunci Sukses
Direktur Utama Cinema XXI, Suryo Suherman, menjelaskan bahwa pelaksanaan strategi bisnis yang tepat dan pengalaman menonton yang optimal bagi konsumen adalah fokus utama mereka. “Kepercayaan dan kolaborasi semua pemangku kepentingan adalah landasan dalam mempertahankan kinerja perusahaan,” ungkapnya dalam keterangan resmi pada Jumat (6/3/2026).
Selama tahun 2025, Cinema XXI mencatat jumlah penonton mencapai 85 juta orang, disertai dengan peningkatan rata-rata harga tiket sebesar 3,0% menjadi Rp46.057. Peningkatan ini didorong oleh okupansi yang baik di studio premium seperti The Premiere dan IMAX®.
Inovasi Menu F&B untuk Peningkatan Pengalaman Pelanggan
Untuk meningkatkan pengalaman pelanggan, Cinema XXI juga berfokus pada pengembangan segmen makanan dan minuman (F&B). Tahun ini, mereka berhasil meluncurkan lebih dari 30 menu baru di XXI Café dan The Premiere Café yang disesuaikan dengan tren pasar. Rata-rata pengeluaran untuk makanan dan minuman per penonton meningkat 5,9% menjadi Rp25.814, yang menunjukkan daya tarik produk yang semakin kuat.
Ekspansi Jaringan untuk Akses Hiburan yang Lebih Luas
Pada tahun 2025, Cinema XXI juga memperluas jaringannya dengan meresmikan 12 bioskop baru dan menambah 43 layar baru. Ekspansi ini mencakup kehadiran pertama Cinema XXI di beberapa daerah baru, termasuk Indramayu, Pematangsiantar, Magelang, Tuban, dan Kota Metro di Lampung. Dengan demikian, hingga akhir tahun 2025, Cinema XXI telah mengoperasikan total 1.388 layar di 267 bioskop yang tersebar di 56 kota dan 30 kabupaten di seluruh Indonesia.
Suryo menekankan bahwa ekspansi ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk memperluas akses hiburan berkualitas di berbagai wilayah Indonesia. “Kami berkomitmen untuk terus menambah jumlah layar baru secara selektif sambil tetap menjaga kualitas layanan,” tambahnya.
Analisis Kinerja Keuangan CNMA
Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis, dari total pendapatan Rp5,86 triliun, kontribusi terbesar berasal dari penjualan tiket yang mencapai Rp3,56 triliun, meningkat 0,59% dibandingkan tahun sebelumnya. Pendapatan dari penjualan makanan dan minuman menyumbang Rp1,99 triliun, naik 3,35% YoY. Namun, beban dan biaya operasi juga meningkat sebesar 3,39% menjadi Rp4,83 triliun, yang berimbas pada laba usaha yang tercatat sebesar Rp1,05 triliun, turun 0,51% YoY.
Di sisi neraca, total aset CNMA tercatat sebesar Rp6,76 triliun, mengalami penurunan 3,50% YoY, sedangkan liabilitas meningkat tipis menjadi Rp2,42 triliun. Ekuitas perusahaan turun 5,57% menjadi Rp4,33 triliun, menandakan perlunya pengelolaan aset yang lebih efisien ke depannya.
Kesimpulan
Meskipun Cinema XXI mengalami penurunan laba, pertumbuhan pendapatan dan ekspansi jaringan menunjukkan optimisme dalam menghadapi tantangan di industri perfilman Indonesia. Langkah-langkah strategis yang diambil untuk meningkatkan pengalaman pelanggan dan memperluas jangkauan bioskop diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi kinerja perusahaan di tahun-tahun mendatang.
